MARI BERGABUNG BERSAMA KAMI





Hadits Rasulullah S.A.W bersabda : "Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Dia (Allah) menjadikan tiap-tiap penyakit itu ada obatnya. Maka berobatlah, akan tetapi jangan kamu berobat dengan benda yang haram" (H.R. Abu Daud)

"Pengobatan itu ada tiga macam : minum madu (Herba), berbekam (Al Hijamah) dan kayy dengan besi panas, tetapi aku melarang umatku berobat dengan kayy." (H.R Bukhari)

Apa Itu HPA?

HPA adalah sebuah perusahaan yang eksis dengan penjualan produk-produk kesehatan (herba alwahida) yang didirikan oleh Tn. Haji Ismail bin H. Ahmad pada bulan September 1987 yang berkantor pusat di Malaysia dan HPA Indonesia ada sejak tahun 2000.

HPA (Herba Penawar Al wahida) adalah solusi sehat dengan herba yang islami dan berdasarkan atas sumber Alamiah & Ilahiah serta terbukti secara Ilmiah.

Produk herba dari HPA adalah produk yang mendapatkan sertifikat GMP (Good Manufacturing Practise), halal dan thoyyib serta paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, Malaysia bahkan Internasional.

HPA Bertanya Kepada Anda?

Apakah Anda Seorang Muslim?
MAU Selalu Hidup Sehat?
MAU Menjadi Seorang Herbalis HPA?
MAU Belajar Cara Pengobatan Rasulullah S.A.W atau Pengobatan Ath Thibbun Nabawi?
MAU Belajar Bekam/Al Hijamah?
MAU membantu Orang Tua Anda, Suami Anda, Istri Anda, Anak Anda, Saudara Anda, Teman Anda, Tetangga Anda Atau Sahabat Anda yang sedang sakit, atau Anda MAU Menjadi Seorang Entrepreneur Muslim Yang Sukses Tanpa Batas ?


Jika Anda "MAU", Ayo Bergabung di HPA !!!
Apapun Latar Belakang dan Profesi Anda saat ini, maka dengan Niat baik dan Bismillah "Mari Bergabung Bersama Kami".

Benefit bergabung di HPA Indonesia :

* Anda akan mendapatkan Kartu Anggota Eksklusif HPA yang berlaku di seluruh outlet stokis HPA di Indonesia. Dengan memiliki kartu ini, anda akan mendapatkan potongan harga hingga 30% untuk produk HPA yang Anda beli.Dapatkan Produk-Produk Unggul dari HPA (Herba Penawar Alwahida) yang Halal Dan Thoyyib serta Insya Allah dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kecuali kematian.
* Dapat Belajar Pengetahuan Tentang Herba dan Bagaimana Mendeteksi Suatu Penyakit dengan Metode Diagnosa Denyut Nadi, Lidah, Syaraf Tangan, dan Iridologi (Mata)
*Dapat Mengikuti Training Menjadi Herbalis dengan materi : Psikologi Perawatan, Herbalogi/Phitofarmaka, Terapi AlHijamah/Bekam, Kiropraksi, Refleksi, dan Akupresure Yang Diadakan HPA Dengan Biaya yang Terjangkau dan Bersertifikat.
* Berpeluang mendapatkan penghasilan tambahan (BONUS) jika aktif dalam sistem Bisnis MLM HPA yang sudah disyahkan sebagai MLM Syariah oleh Pusat Konsultasi Syariah.


Dapatkan Peluang Usaha dan Bisnis Internasional dengan Produk yang Halal dan Thoyyib dari HPA Indonesia

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang bathil kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu (QS. An-Nisa : 29)

Bisnis HPA adalah Bisnis Jaringan dengan Sistem Syariah, setiap member memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk Mendapatkan Bonus Sbb :

1. Bonus Peringkat Pribadi
2. Bonus Stabilitas Belanja
3. Bonus Kemajuan Jaringan
4. Bonus Generasi Pangkat
5. Bonus Generasi PJE/PJI/PJM
6. Bonus Komitmen Pengarah Jati Setia
7. Bonus Agen Stok


Read More......

Tentang Buku Miracle of Enzyme



Catatan Dahlan Iskan tentang Buku Miracle of Enzyme
Wed Jun 10, 2009 1:51 am (PDT)
Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan untuk Manusia

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
“Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.
Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan “enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.
Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.
Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.
Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang “jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.
Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.
Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.
Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak “lomba lari” oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.
Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.
Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.
Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi “modal” oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam “lumbung enzim-induk” . Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari “lumbung”-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.
Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.
Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.
Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.
Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan “jelek” itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.
Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan “pengobatan” seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan “pengobatan” alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.
Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.
Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah. Nah….. gan pei!
Sumber: Jawa Pos, 15 Mei 2009


cover www.mizan.com
The Miracle of Enzyme Self-healing Program (Hard cover)






Oleh: Dr. Hiromi Shinya
ISBN : 9789793269795
Rilis : 2008
Halaman : 304p
Penerbit : Mizan
Bahasa : Indonesia
Harga : -


Read More......